• Home
  • Abatasa
Pondok Aki Zahra
  • Profile

    • muhamad hartono
      muhamad hartono
      Ternyata dunia maya & dunia nyata ini sempit
  • Categories

    • Bahasa Arab online (1)
    • Do’a & Sholawat (7)
    • huMor (1)
    • Islami (8)
    • Keluarga (2)
    • Kesehatan (2)
    • Renungan (13)
    • Tokoh (6)
    • Uncategories (9)
  • Tag

      dunia, , mode, , islami, ,
  • Archives

    • January 2012
    • December 2011
    • October 2011
    • December 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
  • Links

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 115827 kali
Okt 23

Wisata & Umroh

Renungan 0 Comment »


Juli 2011 dengan tiada terduga saya terpanggil oleh perusahaan tempat saya bekerja untuk berangkat melaksanakan ibadah umroh ke Tanah Suci,. belum  pernah naik pesawat terbang sama sekali apalagi  pergi ke tanah suci,  Saya  benar-benar belum bisa membayangkan bagaimana Ka’bah,  bukit Marwah dan bukit Shoffah, terbayang nanti kalau Syai pasti naik turun bukit dan panas dan buta atas apa yang akan ia temui di Tanah Suci.



Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah ternyata saya diberi ongkos umroh untuk dua orang, ini berarti saya boleh bawa istri ikut kesana, maka begitu sudah positif betul akan diberangkatkan umroh, saya langsung tanyakan ke istri saya .. bu pengin umroh gak ke Mekkah, kalau mau syaratnya mudah, ibu harus sholat tepat waktu, aurat selalu tertutup, berdoa dan baca sholawat haji Insyaalloh  gak lama lagi  ibu  doanya terkabul bisa Umroh ke tanah suci,.  dengan tekad bulat dan di tengah kesibukannya saat itu, saya berusaha mencari  dana talangan  karena  ongkos yang ditanggung perusahaan masih kurang, sambil mengurus pasport dan silaturahmi ke sanak family sekalian  mohon maaf , karena  dua minggu sebelum Ramadhan saya  dan istri mau  berangkat Umroh ke tanah suci  selama 9hari 



Saat tiba hari keberangkatan saya menggunakan bus menuju bandara Cengkareng Jakarta, selama perjalanan terus berdzikir inikah yang namanya panggilan Alloh dengan tidak disangka sangka bisa berangkat ke tanah suci,  Setelah masuk kedalam pesawat jenis Boeing 747-400 .. Subhanalloh begitu banyaknya penumpang 400 orang lebih belum ditambah barang bawaan, kalao bukan karena izin Alloh gak mungkin bisa terbang, Setelah  9jam penerbangan nonstop akhirnya pesawat mendarat di Madinah, langsung menuju hotel kira-kira 300 meteran dari masjid Nabawi, Subhanalloh , Alhamdulillah akhirnya saya bersama istri bisa sholat isya di masjid Nabawi,.. Subhanalloh begitu luasnya lebih luas dari stadion persib didalamnya dipenuhi dengan ornamen2 dan ukiran yang terbuat dari emas, hawanya sejuk berAC diluar masjid suhu 45C, Setelah selesai sholat  saya  bertemu kembali sama istri di salah satu sudut diluar masjid ,. kemudian saya jalan jalan dulu sambil lihat2 pedagang kaki5 sekalian mengenal medan  supaya tidak nyasar, selama 3 malam di Madinah sempat sholat di Raudhoh dan ziarah ke tempat2 bersejarah disekitaar Madinah, selepas Lohor perjalanan dilanjut ke Mekkah..



Setelah mandi dan berpakaian ihrom kemudian checkout dari hotel untuk menuju Mekkah, kira-kira perjalanan di 12km bus berhenti di BirAli ini namanya daerah miqot /batas yang dari arah Madinah, disini kita sholat sunah ihrom dan niat Umroh, nah mulai saat inilah segala macam larangan yang membatalkan Umroh berlaku sampai nanti  kita melaksanakan tahallul. Perjalanan dari sini menuju Mekkah masih 400 km lebih yang ditempuh 6 jam lebih,.. selama perjalanan mengucapkan Talbiyah, dzikir , Subhanalloh sepanjang perjalanan dikanan kiri jalan hanya berupa gunung batu dan padang pasir hanya sedikit dijumpai perkampungan penduduk , tak terlihat ada tanaman yang menghijau.. kurang lebih jam 10malam WAS sampai di Mekkah langsung menuju hotel simpan barang, makan malam dan kira-kira jam 01.00 WAS menuju Masjidilharam untuk melaksanakan Thowaf,.. Alhamdulillah Subhanalloh tak terasa air mata menetes saat memasuki pintu utama Masjidilharam dan melihat Ka'bah



Selama thowaf saya sambil berdoa, mohon ampun dari dosa, baca sholawat, dan baca  7surat  untuk menandakan  thowat telah dilaksanakan 7kali putaran, setelah itu berdoa di makom Ibrohim dan sholat sunah, Kemudian dilanjut Syai 7balikan dari bukit Marwah ke bukit Shoffah,.. setelah selesai  Syai dilanjut gunting rambut atau Tahallul,. maka selesailah sudah rangkaian ibadah Umroh.dan smua yg tadinya diharamkan menjadi halal,  kemudian saya masih penasaran tanya sama pembimbing pak mana bukitnya kok gak ada saya kira  naik turun bukit, setelah dikasih tahu  ... ow itu bukitnya ada dibawah jadi tadi kita Syai di bangunan lantai dua. Alhamdulillah walau sedikit pegel dan mata sedikit memerah akhirnya dapat dilaksanakan dengan lancar. kemudian kami kembali ke hotel untuk ganti pakaian dan istirahat sebentar  kemudian berangkat lagi ke Baitulloh untuk sholat subuh berjamaah, selama 3 malam di Mekkah kami gak menyianyiakan kesempatan ini untuk selalu beribadah di Masjidilharm dan sholat sedekat mungkin ke Ka'bah,.. setelah makan malam bada isya istirahat kemudian jam01.00 WAS berangkat lagi ke Masjidilharam sholat tahajud, baca quran, dzikir dll sampai menjelang subuh,



Tibalah saatnya hari terakhir di Mekkah kebetulan hari Jumaat maka takdisiasiakan kesempatan ini untuk sholat Jumat di dekat Ka'bah,. karena ada info akan checkout setelah makan siang,.. sedangkan teman yang lain tidak Jumatan hanya Thowaf wada, tapi dengan tekad bulat saya tunda Thowaf wada setelah sholat Jumat,.. Subhanalloh baru jam 10.00WAS Masjidil haram sudah penuh jamaah, dalam situasi yang panas terik tapi di lantai dekat Ka'bah alhamdulillah tidak terasa panas beda dengan lantai diluar masjid. Begitu sholat Jumat selesai  saya langsung Thowaf wada kemudian cepat2 kembali ke hotel checkout untuk menuju ke Jeddah,.. Alhamdulillah walau makan siang tertinggal tapi bus yng dicharter untuk ke Jeddah belum datang, jadi bisa berangkat bersama rombongan.



Sungguh pengalaman yang tak terlupakan selama Thowaf wada tsb istri saya selalu menangis terisak isak tak terbendung airmatanya terus mengalir,, pokoknya dari awal sampai akhir Thowaf cuma kebanyakan hanya mengucapkan doa sapujagat, begitu juga saya airmata terus mengalir rasanya berat berpisah dengan Baitulloh selalu mohon panjangkan usia dan beri kesehatan sehingga suatu saat nanti bisa kembali lagi ke Baitulloh.,



Tepat jam 14.00WAS bus datang  setelah rombongan semua naik lalu berangkatlah kita ke Jeddah untuk transit semalam , karena baru kesokan harinya saya dan teman2 kembali ke Indonesia. sebelum tiba di hotel Jeddah singgah dulu di sebuah pantai dan sholat ashar di Masjid terapung sambil menikmati pemandangan setelah itu chckin di hotel AL-Azhar Jeddah menjelang senja,  sambil istirahat iseng2 nyalakan teve, astaghfirulloh disini banyak chanel teve dari luar negeri yang penuh tontonan  aurat, berbeda dengan di Madinah dan Mekkah hanya ada satu chanel teve lokal saja.



Keesokan harinya Minggu saya dan istri melihat lihat sebuah masjid yang lain dari yang lain karena di halaman masjid tsb adalah tempat untuk melakukaan qishos / hukuman pancung terpidana mati,.disitu masih terlihat tetesan darah terhukum katanya Jumat kemaren  ada yang dieksekusi.. saya merenung dalam hati kalau ini diterapkan di negara kita untuk menghukum koruptor insyaalloh negara kita tidak akan terpuruk ekonominya dan makmur rakyatnya.  Setelah dari situ saya pergi ke tempat shoping namanya AL-Balad sekalian menghabiskan uang real dan menyimpan selembar saja buat kenang2an,



Setelah makan siang di hotel saya dan rombongan langsung checkout kemudian menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk kembali lagi ke tanah air naik  pesawat maskapai yang sama jenis boeing 747-400 berangkat dari Jeddah bada maghrib nonstop langsung ke Cengkareng, Alhamdulillah pesawat mendarat dengan selamat,  dijemput sama sanak family yang ada di Jakarta begitu  ketemu langsung salaman. berpelukaan dan isak tangispun terjadi lagi, setelah barang bagasi terkumpul, melanjutkan perjalaanan kembali ke Bandung , Alhamdulillah menjelang azan maghrib saya dan istri sampai kerumah , . dan mengalirlah kembali  air mata ini demikian pengalaman saya pertama kali naik pesawat langsung pergi wisata Umroh ke tanah suci, smoga tulisan ini menjadi penyemangat  menggugah hati pembacanya  punya keinginan ibadah ke tanah suci, mohon maaf bila ada kesalahan,



 


(read more ...)


Okt 30

Dua Mahasiswa Afsel Berhaji dengan Sepeda

Renungan 1 Comment »

Melewati Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah, dan Yordania, Nathim Caircross (28 tahun) dan Imtiyaz Ahmad Haron (25 tahun) mengayuh sepeda ke Arab Saudi. Setiap hari mereka harus mengayuh sejauh 80-100 km, bermula dari Cape Town, Afrika Selatan. "Mengayuh sepeda ke Kerajaan dari Cape Town adalah pengalaman yang melelahkan. Kami melakukan perjalanan dengan cara ini sehingga kita siap untuk menjalani kerasnya ibadah haji," kata Cairncross, yang berprofesi sebagai perencana kota, sepeti dikutip arabnews.com.

Di Cape Town mereka kuliah hukum Islam di sebuah universitas. Cairncross hobi berselancar angin, Haron hobi kickboxing dan mendaki gunung. Cairncross kemudian kursus perencanaan kota yang kemudian mengantarnhya kepada dunia kerja. Mereka mengaku bahagia begitu tiba di perbatasan Arab.

Mereka memulai perjalanan pada 7 Februari 2010. Ini adalah perjalanan haji pertama mereka. "Kami bisa naik pesawat, tapi kami menghargai perjalanan yang berbeda. Jadi kami memilih menggunakan sepeda kami. Bersepeda adalah kegiatan yang paling kami sukai," kata Cairncross.

Senja tiba, mereka akan mencari masjid atau memasang untuk beristirahat. Selepas Subuh, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Selama perjalanan, Selama perjalanan,eka menemukan orang-orang yang ramah dan menyambut baik mereka. Orang-orang salut atas perjalanan haji mereka. Tawaran makan pun berdatangan selama di perjalanan

Mereka membawa bekal yang minim. Tawaran bantuan uang pun berdatangan kepada mereka. Di perbatasan Arab, petugas keamanan juga menyambut ramah dua jamaah yang harus pula turun naik pegunungan dengan mengayuh sepeda. Melewati sembilan negara selama sembilan bulan, mereka sering mengganti ban dan memperbaiki rantai sepeda. Masalah bahasa sedikit menjadi kendala dalam perjalanan mereka. Tapi, mereka bisa mengatasinya. Selesai berhaji, mereka akan pulang melalui Afrika Barat.

Liputan,6 com mekkah,(AN/ARI)

(read more ...)
Sep 24

Islam K T P

Renungan 0 Comment »

Istilah Islam KTP, yang sejak lama kita kenal, kini tidak banyak lagi digunakan. Yang disebut Islam KTP adalah orang yang di dalam KTP disebut beragama Islam, tetapi dianggap bukan pemeluk Islam yang taat karena tidak menjalankan ibadah ritual seperti salat, zakat, atau haji. Kalau mereka berpuasa dan berderma, mungkin tidak seluruh puasa dan derma itu sama dengan puasa dan zakat yang sesuai dengan syariat Islam. Terkesan istilah Islam KTP bermaksud menunjukkan bahwa mereka tampaknya Islam, tetapi bukan Islam yang sesungguhnya.  Sekitar 60 tahun lalu, Clifford Geertz memunculkan istilah abangan dan santri. Kelompok abangan ialah mereka yang disebut Islam KTP. Tidak sulit membedakan kelompok abangan dengan santri.


Secara bertahap, sesuai dengan pertambahan usia dan perkembangan masyarakat, mereka yang dulu disebut Islam KTP itu mulai belajar tentang Islam. Banyak di antara mereka yang beribadah salat dengan baik. Tidak sedikit di antara mereka yang pergi haji. Bahkan, ada yang lebih taat daripada mereka yang sejak dulu termasuk kelompok santri. Masjid dalam kampus PTN terkenal, seperti UI, IPB, ITB, UGM, dan ITS, menjadi basis kegiatan anak muda Islam terdidik.


Setelah ormas-ormas dan partai Islam menerima Pancasila, batas antara abangan dan santri makin samar. Di mata pemilih kalangan santri, partai Islam tidak jauh berbeda dengan partai berasas Pancasila yang juga ikut berjuang bagi aspirasi politik bernuansa Islam. Banyak perempuan yang dulu termasuk kelompok abangan atau Islam KTP kini menggunakan jilbab. Kantor-kantor, hotel-hotel, bandara, stasiun KA, dan pelabuhan menyediakan musala bagi masyarakat luas. Pompa besin berlomba menyediakan musala yang bersih dan nyaman. Sungguh suatu perubahan yang menggembirakan.


Setelah banyak sekali mereka yang kita sebut Islam KTP menjalankan ibadah mahdhoh (ritual) dengan tekun, apakah hampir semua muslim di Indonesia bisa kita sebut sebagai pemeluk Islam yang taat? Kalau kriteria Islam taat itu adalah bersalat, berhaji, dan berderma, jawabannya pasti positif. Tetapi, kita perlu meninjaunya dari sudut pandang yang lebih luas. Kita saksikan di dalam kehidupan sehari-hari terdapat realitas yang amat bertentangan dengan fakta itu. Praktik korupsi makin marak di pusat maupun daerah. Kejujuran atau sikap amanah masyarakat tidak menggembirakan. Rasa saling percaya dalam masyarakat menipis. Sudah banyak anak Islam seusia pelajar SMP yang berhubungan seks. Amat sulit bagi kita menjelaskan kontradiksi seperti itu.


Salat, puasa, dan haji adalah simbolisasi ibadah mahdhoh, yang bersifat ragawi. Substansi atau tujuan tiga ibadah itu, yang bersifat batiniah, tidak berbeda. Dengan salat, kita diharapkan tercegah dari perilaku keji dan mungkar. Seberapa banyak umat Islam Indonesia yang bisa mencapai tingkat seperti itu? Bukan hanya orang awam, tetapi juga banyak tokoh.


Menurut surat Al Baqarah ayat 183, ibadah puasa diharapkan membuat kita menjadi orang yang bertakwa. Ayat 188 surat tersebut berbunyi, “Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa padahal kamu mengetahui.”


Kini kita menyaksikan banyak sekali muslimin di Indonesia, termasuk kaum terpelajar, pejabat, kelompok profesional, bahkan mungkin sedikit tamatan pesantren, yang berpuasa Ramadan, tetapi ternyata tidak mencapai dampak positif dari ibadah mahdhoh itu seperti yang dipesankan Al Baqarah ayat 183-188. Banyak di antara kita yang masih memperjualbelikan keadilan. Apa sebutan yang tepat bagi mereka yang berpuasa tetapi dengan sadar terus-menerus melanggar larangan Allah? Apakah mereka itu kita sebut Islam KTP atau Islam yang taat?


Kita juga menyaksikan banyak muslimin yang sudah berhaji (dan mungkin berumrah berkali-kali), tetapi dampak ibadah haji dan umrah itu belum sesuai dengan harapan. Seakan ibadah vertikal (kepada Tuhan) dan perilaku sosial (yang berpotensi ibadah) tidak menyambung dan terputus, bahkan bertolak belakang. Padahal, seharusnya ada kaitan yang kuat antara ibadah ritual (vertikal) dan sosial itu.


Kita perlu bertanya, mengapa Denmark yang konon mayoritas penduduknya tidak percaya kepada Tuhan bisa menjadi negara yang paling bersih dari korupsi dan Indonesia yang sering kita klaim sebagai negara agamais (religius) ternyata termasuk negara yang indeks korupsinya tidak baik?


Kita juga menyaksikan bahwa jutaan umat Islam masih membutuhkan uluran tangan sesama muslim. Potensi zakat baru tergali antara 5-20 persen. Syukur dalam beberapa tahun terakhir pengumpulan zakat, infak, dan sedekah meningkat tajam. Kondisi yang kontradiktif itu sudah berlangsung lama sekali dan tidak banyak di antara kita yang mengkaji secara serius penyebab hal itu terjadi. Kita tetap asyik dengan ibadah mahdhoh dengan cara seperti itu, seakan tidak peduli dengan kontradiksi tersebut. Para mubalig masih tetap asyik bicara tentang dampak positif ibadah-ibadah itu tanpa menyinggung dampaknya yang nyata dalam masyarakat, yang tidak nyambung dengan keindahan ibadah tersebut. Tentu tulisan ini tidak bermaksud mengurangi ibadah ritual, tetapi mendorong upaya mengkaji penyelarasan ibadah ritual dengan perilaku sosial kita.


Apakah sebutan yang tepat bagi muslimin/muslimat yang beribadah mahdhoh, tetapi perilakunya buruk? Islam KTP atau Islam taat? Kalau taat secara ragawi, tetapi tidak taat secara batiniah, apakah masih layak disebut Islam yang taat? Tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Atau lebih baik dihilangkan saja istilah Islam KTP dan Islam taat? Yang penting, umat Islam harus taat menjalankan ibadah ritual dengan baik sehingga berdampak positif terhadap perilaku kita. Kita berjuang menjadi orang baik, yang berlaku baik terhadap orang lain, apa pun agamanya, apa pun pangkatnya, tidak peduli kaya atau miskin.


Sumber: jawapos, 16/09/10

(read more ...)
Jun 29

5.3 Milyard untuk Biaya Nafas sebulan

Renungan 0 Comment »

 


Sekali bernafas, manusia memerlukan 0,5 liter udara. Pernahkah kita merenungkan, minimal merasakan rasa syukur?


Oleh: Syaefudin



Bernafas, mungkin sudah dianggap biasa dan tak lagi menarik dibahas oleh sebagian orang. Pasalnya, sejak bangun tidur sampai terlelap, manusia tak lepas dari kegiatan mengambil udara di alam bebas ini. Namun, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana nikmat Allah ini sebenarnya bernilai miliaran rupiah? Tak perlu menghitung kegiatan bernafas secara keseluruhan yang melibatkan berbagai organ tubuh, cukup kiranya menjumlah rupiah dari setiap udara yang dihirup.



Sekali bernafas, umumnya manusia memerlukan 0,5 liter udara. Bila perorang bernafas 20 kali setiap menitnya, berarti udara yang dibutuhkan sebanyak 10 liter. Dalam sehari, setiap orang memerlukan 14.400 liter udara.



Lalu, berapa nilai tersebut bila dirupiahkan? Sebagaimana diketahui, udara yang dihirup manusia terdiri dari beragam gas semisal oksigen dan nitrogen. Keduanya, berturut-turut 20% dan 79% mengisi udara yang ada di sekitar manusia. Bila perbandingan oksigen dan nitrogen dalam udara yang manusia hirup sama, maka setiap kali bernafas manusia membutuhkan oksigen sebanyak 100 ml dan 395 ml lainnya berupa nitrogen. Artinya, dalam sehari manusia menghirup 2880 liter oksigen dan 11.376 liter nitrogen.  



Jika harga oksigen yang dijual saat ini adalah Rp 25.000 per liter dan biaya nitrogen per liternya Rp 9.950 (harga nitrogen $ 2.75 per 2,83 liter, data nilai tukar dollar Bank Indonesia pada 9 November 2009), maka setiap harinya manusia menghirup udara yang sekurang-kurangnya setara dengan Rp 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar sejumlah udara yang dihirup berarti setiap bulannya harus menyediakan uang sebesar 5,3 Miliar rupiah. Dalam setahun, manusia dapat menghabiskan dana 63,6 Miliar.



Itu hanya jumlah uang yang diperlukan dalam setahun. Bila dihitung seluruh kebutuhan seumur hidup, pastilah nilainya lebih mencengangkan lagi. Sungguh, Allah maha pemurah atas segala karunia-Nya. Tak terkecuali nikmat Allah dari udara yang digunakan manusia sebagai bahan bernafas setiap saatnya.  



Udara yang melimpah ruah di alam adalah bukti kasih sayang Allah yang luar biasa. Sekumpulan gas tersebut diberikan Allah kepada manusia dengan cuma-cuma. Tak sepeser pun dipungut dari manusia atas nikmat yang amat penting tersebut. Oleh karenanya, sudah sepantasnyalah manusia bersyukur kepada Sang Pencipta. Dia-lah Rabb yang mengurus kita di siang dan di malam hari sebagaimana firman Allah, “katakanlah: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?’…”(QS Al Anbiyaa’ 21: 42).

(read more ...)
Mei 13

Hati yang dipenuhi cinta hanya untuk Alloh dan Rosul-Nya...

Renungan 0 Comment »

"Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya salat dan banyaknya puasa, tapi karena sesuatu yang bersemayam di hatinya." (HR at-Tirmidzi di an-Nawâdir dan al-Ghazali di Ihyâ’ Ulûmiddîn)



Abu Bakar ash-Shiddiq adalah manusia terbaik dari kalangan umat Rasulullah Muhammad SAW. Rasulullah SAW. Beliau juga menobatkannya khalîl atau kekasih terdekat bagi beliau. Faktor utamanya bukan hanya karena banyaknya amal yang beliau lakukan, tapi juga karena totalitas hatinya. Hatinya serba total untuk Allah dan Rasul-Nya.



Pada saat Rasulullah SAW mengumumkan agar kaum Muslimin menyumbangkan harta mereka untuk dana perang Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah SAW. "Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?" tanya Rasulullah kepada Abu Bakar.



"Allah dan Rasul-Nya?" jawab Abu Bakar tanpa keraguan sedikitpun.



"Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tak menyisakan apapun melainkan apa yang ia cintai," demikian komentar Imam al-Ghazali tentang kisah beliau ini.



Totalitas hati itu membawa Abu Bakar SAW menjadi orang yang paling makrifat kepada Allah di antara umat Rasulullah SAW yang lain. Abu Bakar Radhiallâhu’anhu mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah SAW



Hingga, hidupnya begitu miskin setelah mengucapkan ikrar Islam di hadapan Rasulullah. Padahal, sebelumnya Abu Bakar adalah saudagar kaya yang disegani di Quraisy.



Abdullah bin Umar bercerita: Suatu ketika Rasulullah SAW duduk. Di samping beliau ada Abu Bakar memakai jubah kasar, di bagian dadanya ditutupi dengan tambalan. Malaikat Jibril turun menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar.

"Hai Rasulullah, kenapa aku lihat Abu Bakar memakai jubah kasar dengan tambalan penutup di bagian dadanya?" tanya Malaikat Jibril.



"Ia telah menginfakkan hartanya untukku ( untuk kepentingan dakwah: pen)." Sabda beliau

"Sampaikan kepadanya salam dari Allah dan sampaikan kepadanya: Tuhanmu bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?"

Rasulullah SAW menoleh kepada Abu Bakar. "Hai Abu Bakar, ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu, dan Allah bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?"



Abu Bakar menangis: "Apakah aku akan murka kepada (takdir) Tuhanku!? (Tidak!) Aku rida dengan (takdir) Tuhanku, Aku rida akan (takdir) Tuhanku."



Semua miliknya habis untuk Allah dan Rasulullah SAW. Inilah totalitas cinta. Cinta yang mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih, tak menyisakan apa-apa lagi selain Dia di hatinya. "Orang yang merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka cinta itu akan membuatnya berpaling dari pencarian terhadap dunia " Demikian untaian kalimat tentang tasawuf cinta yang pernah terucap dari mulut mulia Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq.



“Barang siapa yang mengeluarkan dua macam harta fi sabilillah, maka ia akan dipanggil dari pintu surga… Wahai hamba Allah, sungguh ini perbuatan baik. Dan barang siapa yang selalu melaksanakan shalat, akan dipanggil dari pintu shalat. Dan barang siapa yang ikut berjihad, ia akan di panggil dari pintu jihad. Dan barang siapa yang selalu melaksanakan puasa, akan dipanggil dari pintu yang memancarkan air yang segar. Dan barang siapa yang selalu memberikan sedekah, akan di panggil dari pintu sedekah”.



Maka kemudian Abu Bakar r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bisa seseorang dipanggil dari semua pintu surga tadi?” Mendengar pertanyaan Abu Bakar r.a. itu bibir Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam terbuka lalu berkata, “Ya, dan aku sangat berharap engkau termasuk satu diantara orang yang dipanggil dari semua pintu surga.” (HR. Bukhari)



Abu Bakar RA adalah shahabat yang dipanggil dari semua pintu syurga. Kenapa saudaraku ? Karena hatinya telah diberikan hanya untuk Alloh dan Rosul-nya. Hati yang dipenuhi cinta hanya untuk Alloh dan Rosul-Nya.


kiriman group lentera hati..

(read more ...)
Des 28

Renungan & Ketakutan Manusia

Renungan 0 Comment »

RENUNGAN



Renungkanlah.

Siapa yang tau sampai kapan kita hidup?!

Siapa yang tau berapa lama lagi kita harus menebus semua dosa?!

Siapa yang tau takdir apa yang akan terjadi pada kita?!

Siapa yang tau setelah mati kita akan ditempatkan dimana, surga atau neraka?!



Siapa yang tau apa yang akan terjadi besok?!

Apa kita masih dapat berjalan seperti hari ini

Apa kita masih bisa membaca seperti saat ini

Kegembiraan yang kita rasakan dapat langsung berubah hanya dalam satu kedipan

Seberapa besar kuasa manusia tuk melawan kata ”kun”

Hanya dengan 0.005 detik atau bahkan kurang dari itu semua dapat terjadi

Harta, nyawa dan segalanya menjadi tak berarti dan kan lenyap tanpa kompromi

Apa yang dapat diperbuat manusia?!

Membayangkan saja tak sanggup



Apa kamu punya ”tabungan” untuk menghadapinya?!

Siapkanlah imanmu mulai dari sekarang





KETAKUTAN MANUSIA



Saat mata

Tak mampu lagi menahan kelopaknya,

Muncul keinginan tuk tidur dan bermimpi



Namun takut..takut..takut..,

Tiba- tiba perasaan itu muncul lagi,

Ku tak sanggup menyadari bahwa ku kan tertidur.



Doa dan terus berdoa



Dengan pengetahuan yang yakin,

Ku sadar hanya meminjam raga tuk hidup

Namun dengan keyakinan pula ku tak mampu

Membayangkan jika hari ini adalah hari terakhir ku di dunia,

Maka mungkin tak kan cukup amal ku tuk masuk surga



Ketakutan membuatku berfikir

Jika aku mengetahui hari ini adalah hari terakhir

Maka tiap detik kesempatan, akan aku gunakan ’tuk menebus dosa

Namun jika aku tidak mengetahui bahwa hari ini adalah hari terakhir

Maka akan ku sesali setiap waktu ku yang terbuang percuma



Takut...takut..takut sungguh ku takut

Aku tidak akan mengetahui kapan hidupku kan berakhir

Ku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk hidup ku

Tak kan kusia- siakan keringanan satu hari, satu menit bahkan satu detik untuk ku

Berusaha menjadi lebih baik dan lebih baik



Hingga saatnya tiba,

Ku kan siap dan ikhlas tuk menerimanya

(read more ...)
Des 03

KEISTIMEWAAN AIR ZAM-ZAM

Renungan 0 Comment »

 KEISTIMEWAAN AIR ZAM-ZAM



Air Zam-Zam bukanlah air yang asing bagi kaum Muslimin. Air ini mempunyai keutamaan yang sangat banyak. Rasulullah telah menjelaskan kegunaan air tersebut. Beliau bersabda,"Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang  mengenyangkan dan penawar penyakit."[1] Apa rahasia dibalik air yang banyak memiliki khasiat dan penuh barakah ini?



MAKNA ZAM-ZAM

Kata Zam-Zam dalam bahasa Arab berarti, yang banyak atau melimpah [2]. Adapun air Zam-Zam yang dimaksud oleh syari’at, yaitu air yang berasal dari sumur Zam-Zam. Letaknya dengan Ka’bah, berjarak sekitar 38 hasta. 



Dinamakan Zam-Zam, sesuai dengan artinya, karena memang air dari sumur tersebut sangat banyak dan berlimpah. Tidak habis walau sudah diambil dan dibawa setiap harinya ke seluruh penjuru dunia oleh kaum Muslimin. 



Dinamakan dengan Zam-Zam, bisa juga diambil dari perbuatan Hajar. Ketika air Zam-Zam terpancar, ia segera mengumpulkan dan membendungnya. Atau diambil dari galian Malaikat Jibril dan perkataannya, ketika ia berkata kepada Hajar. 



Disebutkan juga, bahwa nama Zam-Zam adalah ’alam, atau nama asal yang berdiri sendiri, bukan berasal dari kalimat atau kata lain. Atau juga diambil dari suara air Zam-Zam tersebut, karena zamzamatul ma` adalah, suara air itu sendiri.[3]



Nama lain Zam-Zam, sebagaimana telah diketahui, antara lain ia disebut barrah (kebaikan), madhmunah (yang berharga), taktumu (yang tersembunyi), hazmah Jibril (galian Jibril), syifa` suqim (obat  penyakit), tha’amu tu’im (makanan), syarabul abrar (minuman orang-orang  baik), thayyibah (yang baik) [4]. 



SEJARAH MUNCULNYA ZAM-ZAM

Disebutkan oleh Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, dari hadits Ibnu ’Abbas. Suatu saat, ketika berada di Mekkah, Nabi Ibrahim menempatkan istrinya Hajar dan anaknya Ismail di sekitar Ka`bah, di suatu pohon besar yang berada di atas sumur Zam-Zam. Waktu itu, tidak ada seorangpun di Mekkah, melainkan mereka bertiga. Setelah Nabi Ibrahim

Alaihissalam meletakkan kantong berisi kurma dan air, iapun beranjak pergi. Namun Hajar mengikutinya seraya mengatakan,”Wahai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi dengan meninggalkan kami sendiri di tempat yang tiada manusia lain, atau yang lainnya?"



Pertanyaan itu ia ulangi terus, tetapi Nabi Ibrahim tidak menengok kepadanya. Sampai akhirnya Hajar berseru kepadanya,”Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan hal ini?” 

“Ya,” jawab Nabi Ibrahim. 

"Kalau begitu, Allah tidak akan menyengsarakan kami,” seru Hajar. Kemudian kembalilah Hajar ke tempatnya, dan Nabi Ibrahim terus  melanjutkan perjalanannya. 



Sesampainya di Tsaniyah -jalan bebukitan, arah jalan ke Kada`.

Rasulullah ketika memasuki Mekkah juga melewati jalan tersebut- dan keluarganya tidak dapat melihatnya lagi, Nabi Ibrahim q menghadap ke  arah Baitullah, lalu mengangkat kedua tangannya seraya berdoa : "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka, dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan,

mudah-mudahan mereka bersyukur" [Ibrahim/14 : 37]



Ibunda Ismail menyusui anaknya dan meminum dari kantong air tersebut. Hingga akhirnya air itupun habis, dan anaknya kehausan. Dia melihat anaknya dengan penuh cemas, karena terus menangis. Dia pun pergi untuk mencari sumber air, karena tidak tega melihat anaknya kehausan. 



Pergilah dia menuju bukit terdekat, yaitu bukit Shafa, dan berdiri di atasnya. Pandangannya diarahkan ke lembah di sekelilingnya, barangkali ada orang disana. Akan tetapi, ternyata tidak ada.



Dia pun turun melewati lembah sampai ke bukit Marwa. Berdiri di atasnya dan memandang barangkali ada manusia di sana? Tetapi, ternyata tidak  juga. Dia lakukan demikian itu hingga tujuh kali. 



Ketika berada di atas bukit Marwa, dia mendengar ada suara, dia berkata kepada dirinya sendiri, "Diam!" Setelah diperhatikannya ternyata memang benar dia mendengar suara, kemudian dia pun berkata, "Aku telah mendengar, apakah di sana ada pertolongan?" 



Tiba-tiba dia melihat Malaikat Jibril, yang mengais tanah dengan kakinya (atau dengan sayapnya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang lain), kemudian memukulkan kakinya di atasnya. Maka keluarlah darinya pancaran air.



Hajar pun bergegas mengambil dan menampungnya. Diciduknya air itu dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam tempat air. Setelah diciduk, air tersebut justru semakin memancar. Dia pun minum air tersebut dan juga memberikan kepada putranya, Ismail. Lalu Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Jangan takut terlantar. Sesungguhnya, di sinilah Baitullah yang akan dibangun oleh anak ini (Ismail) bersama ayahnya. Dan sesungguhnya, Allah tidak akan menelantarkan hambanya." 



Beberapa waktu kemudian, datanglah orang-orang dari kabilah Jurhum turun di lembah Makkah. Mereka turun karena melihat burung -burung yang berputar-putar. Mereka berkata,"Burung ini berputar-putar di sekitar air. Kami yakin di lembah ini ada air," lalu mereka mengirim utusan, dan ternyata benar mereka mendapatkan air. Utusan itupun kembali dan memberitahukan kepada orang-orang yang mengutusnya tentang adanya air.Merekapun kemudian mendatanginya, dan meminta izin dari Ummu Ismail, bahwa mereka akan mampir ke sana. Ummu Ismailpun mempersilahkan dengan  syarat, bahwa mereka tidak berhak memiliki (sumber) air tersebut, dan kabilah Jurhum inipun setuju [6]. 



PENEMUAN KEMBALI AIR ZAM-ZAM 

Ketika Abdul Muthalib sedang tidur di Hijr Ismail, dia mendengar suara yang menyuruhnya menggali tanah. 

"Galilah thayyibah (yang baik)!"

"Yang baik yang mana?" tanyanya.

Esoknya, ketika tidur di tempat yang sama, dia mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali barrah (yang baik)?" 



Dia bertanya, "Benda yang baik yang mana?" Lalu dia pergi. 

Keesokan harinya, ketika tidur di tempat yang sama di Hijr Ismail, dia mendengar lagi suara yang sama, menyuruhnya menggali madhmunah (sesuatu yang berharga).



Dia bertanya," Benda yang baik yang mana?" 

Akhirnya pada hari yang keempat dikatakan kepadanya : "Galilah Zam-Zam!" 

Dia bertanya,"Apa itu Zam-Zam?" 

Dia mendapat jawaban : "Air yang tidak kering dan tidak meluap, yang dengannya engkau memberi minum para haji. Dia terletak di antara tahi binatang dan darah. Berada di patukan gagak yang hitam, berada di sarang semut". 



Sesaat Abdul Muthalib bingung dengan tempatnya tersebut, sampai akhirnya ada kejelasan dengan melihat kejadian yang diisyaratkan kepadanya. Kemudian iapun bergegas menggalinya. 



Orang-orang Quraisy bertanya kepadanya,"Apa yang engkau kerjakan, hai Abdul Muthalib?



Dia menjawab,"Aku diperintahkan menggali Zam-Zam," sampai akhirnya ia beserta anaknya, Harits mendapatkan apa yang diisyaratkan dalam mimpinya, menggali kembali sumur Zam-Zam yang telah lama dikubur dengan sengaja oleh suku Jurhum, tatkala mereka terusir dari kota Mekkah.[6]



KEUTAMAAN DAN KHASIAT AIR ZAM-ZAM

Dari penjelasan Rasulullah dan para ulama dapat diketahui, bahwa air Zam-Zam memiliki barakah dan keutamaan. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan air Zam-Zam dapat disebutkan sebagai berikut.



"Dari Jabir dan Ibnu ’Abbas, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,"Air Zam-Zam, tergantung niat orang yang meminumnya."[7] 



Ibnu Taimiyyah berkata,”Seseorang disunnahkan untuk meminum air Zam-Zam sampai benar-benar kenyang, dan berdoa ketika meminumnya dengan doa-doa yang dikehendakinya. Tidak disunnahkan mandi dengannya (menggunakan air Zam-Zam)."[8]



"Dari Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ’anh, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : "Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail."[9] 



"Dari Abi Thufail, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ’anhu, ia berkata :Saya mendengar Rasulullah bersabda,”Kami menyebut air Zam-Zam dengan syuba’ah (yang mengenyangkan). Dan kami juga mendapatkan, air Zam-Zam

adalah sebaik-baik pertolongan (kebutuhan atas kemiskinanan)". [HR Tabrani] [10] 



"Dari Usamah, bahwasanya Rasulullah meminta untuk didatangkan segantang air Zam-Zam, kemudian beliau meminumnya dan berwudhu dengannya" [HR Ahmad] [11] 



"Disebutkan dalam Silsilah Shahihah, adalah Rasululllah membawa air Zam-Zam di dalam kantong-kantong air (yang terbuat dari kulit). Beliau menuangkan dan membasuhkannya kepada orang yang sedang sakit".



Tatkala Jibril memukul Zam-Zam dengan tumit kakinya, Ummi Ismail segera mengumpulkan luapan air. Nabi berkata,"Semoga Allah merahmati Hajar dan Ummu Ismail. Andai ia membiarkannya, maka akan menjadi mata air yang menggenangi (seluruh permukaan tanah)."[12]



"Dari Ibnu ’Abbas, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,"Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit."[13]



Abu Dzar al Ghifari berkata,"Selama 30 hari, aku tidak mempunyai makanan kecuali air Zam-Zam. Aku menjadi gemuk dan lemak perutku menjadi sirna. Aku tidak mendapatkan dalam hatiku kelemahan lapar."[14]



"Dari Hammam, dari Abi Jamrah ad-Duba`i, ia berkata : "Aku duduk bersama Ibnu ’Abbas di Mekkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu ’Abbas mengatakan, dinginkanlah dengan air Zam-Zam, karena Rasulullah mengatakan, sesungguhnya demam adalah dari panas Neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zam-Zam" [15] 



Dari ’Aisyah, ia membawa air Zam-Zam. Ia mengkabarkan, sesungguhnya dahulu Rasulullah membawanya (sebagai bekal-Pen.).[16]  



Ibnul Qayyim berkata,"Aku dan selain diriku telah megalami perkara yang ajaib tatkala berobat dengan air Zam-Zam. Dengan izin Allah, aku telah sembuh dari beberapa penyakit yang menimpaku. Aku juga menyaksikan seseorang yang telah menjadikan air Zam-Zam sebagai makanan selama beberapa hari, sekitar setengah bulan atau lebih. Ia tidak mendapatkan rasa lapar, ia melaksanakan thawaf sebagaimana manusia yang lain. Ia telah memberitahukan kepadaku bahwa, ia terkadang seperti itu selama empat puluh hari. Ia juga mempunyai kekuatan untuk berjima’, berpuasa dan melaksanakan thawaf ".[17]



Beliau rahimahullah berkata,"Ketika berada di Mekkah, aku mengalami sakit dan tidak ada tabib dan obat (yang dapat menyembuhkannya). Akupun mengobatinya dengan meminum air Zam-Zam dan membacakan atasnya berulangkali (dengan al Fatihah), kemudian aku meminumnya. Aku mendapatkan kesembuhan yang sempurna. Akupun menjadikannya untuk bersandar ketika mengalami rasa sakit, aku benar-benar banyak mengambil manfaat darinya."[18]



Demikian penjelasan singkat tentang air Zam-Zam. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah memberitahukan kepada kita dan membenarkan khasiat dan keutamaan air yang tak pernah kering tersebut, meskipun setiap hari diambil oleh banyak manusia. Dengan mengetahui secara sepintas air Zam-Zam ini, maka hendaknya dapat meningkatkan dan memperkuat sandaran dan ketergantungan kita kepada Allah. Dia-lah yang Maha Penguasa mengatur segala yang Ia kehendaki. Wallahu a’lam.




[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006

(read more ...)
Okt 24

Untuk Apa Kita Diciptakan Di Dunia Ini?

Renungan 0 Comment »

Untuk Apa Kita Diciptakan Di Dunia Ini?

      


Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabat dan yang mengikutinya dengan baik hingga hari pembalasan.


Masih ada segelintir orang yang muncul dalam dirinya pertanyaan seperti ini, bahkan dia belum menemukan jawaban dari pertanyaan ini hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. “Untuk tujuan apa sih, kita diciptakan di dunia ini?”, demikian pertanyaan yang selalu muncul dalam benaknya. Lalu sampai-sampai dia menanyakan pula, “Kenapa kita harus beribadah?”


Sempat ada yang menanyakan beberapa pertanyaan di atas kepada kami melalui pesan singkat yang kami terima. Semoga Allah memudahkan untuk menjelaskan hal ini.


Saudaraku … Inilah Tujuan Engkau Hidup Di Dunia Ini


Allah Ta’ala sudah menjelaskan dengan sangat gamblangnya di dalam Al Qur’an apa yang menjadi tujuan kita hidup di muka bumi ini. Cobalah kita membuka lembaran-lembaran Al Qur’an dan kita jumpai pada surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman,


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)


Saudaraku … Jadi, Allah tidaklah membiarkan kita begitu saja. Bukanlah Allah hanya memerintahkan kita untuk makan, minum, melepas lelah, tidur, mencari sesuap nasi untuk keberlangsungan hidup. Ingatlah, bukan hanya dengan tujuan seperti ini Allah menciptakan kita. Tetapi ada tujuan besar di balik itu semua yaitu agar setiap hamba dapat beribadah kepada-Nya.


Allah Ta’ala berfirman,


“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).


Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya[?] ” (Madaarijus Salikin, 1/98)


Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang.


Allah Ta’ala berfirman,


“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ?” (QS. Al Qiyamah: 36).


Imam Asy Syafi’i mengatakan,


“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.


Ulama lainnya mengatakan,


“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1/98)


Bukan Berarti Allah Butuh pada Kita, Justru Kita yang Butuh Beribadah pada Allah


Saudaraku,setelah kita mengetahui tujuan hidup kita di dunia ini, perlu diketahui pula bahwa jika Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, bukan berarti Allah butuh pada kita. Sesungguhnya Allah tidak menghendaki sedikitpun rezeki dari makhluk-Nya dan Dia pula tidak menghendaki agar hamba memberi makan pada-Nya. Allah lah yang Maha Pemberi Rizki.


Perhatikan ayat selanjutnya, kelanjutan surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta’ala berfirman,


“Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari makhluk dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 57-58)


Jadi, justru kita yang butuh pada Allah. Justru kita yang butuh melakukan ibadah kepada-Nya.


Saudaraku … Semoga kita dapat memperhatikan perkataan yang sangat indah dari ulama Robbani, Ibnul Qoyyim rahimahullah tatkala beliau menjelaskan surat Adz Dzariyaat ayat 56-57. Beliau rahimahullah mengatakan,


“Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut. Akan tetapi, Allah Ta’ala Allah menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka. Hal ini sama halnya dengan perkataan seseorang, “Jika engkau berbuat baik, maka semua kebaikan tersebut akan kembali padamu". Jadi, barangsiapa melakukan amalan sholeh, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri. ” (Thoriqul Hijrotain, hal. 222)


Jelaslah bahwa sebenarnya kita lah yang butuh pada ibadah kepada-Nya karena balasan dari ibadah tersebut akan kembali lagi kepada kita.


Apa Makna Ibadah?


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,


“Dalam ibadah itu terkandung mengenal, mencintai, dan tunduk kepada Allah. Bahkan dalam ibadah terkandung segala yang Allah cintai dan ridhoi. Titik sentral dan yang paling urgent dalam segala yang ada adalah di hati yaitu berupa keimanan, mengenal dan mencintai Allah, takut dan bertaubat pada-Nya, bertawakkal pada-Nya, serta ridho terhadap hukum-Nya. Di antara bentuk ibadah adalah shalat, dzikir, do’a, dan membaca Al Qur’an.” (Majmu’ Al Fatawa, 32/232)


Tidak Semua Makhluk Merealisasikan Tujuan Penciptaan Ini


Perlu diketahui bahwa irodah (kehendak) Allah itu ada dua macam.

Pertama 
adalah irodah diniyyah,yaitu setiap sesuatu yang diperintahkan oleh Allah berupa amalan sholeh. Namun orang-orang kafir dan fajir (ahli maksiat) melanggar perintah ini. Seperti ini disebut dengan irodah diniyyah, namun amalannya dicintai dan diridhoi. Irodah seperti ini bisa terealisir dan bisa pula tidak terealisir.


Kedua adalah irodah kauniyyah, yaitu segala sesuatu yang Allah takdirkan dan kehendaki, namun Allah tidaklah memerintahkannya. Contohnya adalah perkara-perkara mubah dan bentuk maksiat. Perkara-perkara semacam ini tidak Allah perintahkan dan tidak pula diridhoi. Allah tidaklah memerintahkan makhluk-Nya berbuat kejelekan, Dia tidak meridhoi kekafiran, walaupun Allah menghendaki, menakdirkan, dan menciptakannya. Dalam hal ini, setiap yang Dia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terwujud.


Jika kita melihat surat Adz Dzariyat ayat 56,


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)


Tujuan penciptaan di sini termasuk irodah diniyyah. Jadi, tujuan penciptaan di sini tidaklah semua makhluk mewujudkannya. Oleh karena itu, dalam tataran realita ada orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Tujuan penciptaan di sini yaitu beribadah kepada Allah adalah perkara yang dicintai dan diridhoi, namun tidak semua makhluk merealisasikannya. (Lihat pembahasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 8/189)


Dengan Tauhid dan Kecintaan pada-Nya, Kebahagiaan dan Keselamatan akan Diraih


Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,


“Tujuan yang terpuji yang jika setiap insan merealisasikannya bisa menggapai kesempurnaan, kebahagiaan hidup, dan keselamatan adalah dengan mengenal, mencintai, dan beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Inilah hakekat dari perkataan seorang hamba “Laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah)”. Dengan kalimat inilah para Rasul diutus dan semua kitab diturunkan. Suatu jiwa tidaklah menjadi baik, suci dan sempurna melainkan dengan mentauhidkan Allah semata.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, 2/120)


Kami memohon kepada Allah, agar menunjuki kita sekalian dan seluruh kaum muslimin kepada perkataan dan amalan yang Dia cintai dan ridhoi. Tidak ada daya untuk melakukan ketaatan dan tidak ada kekuatan untuk meninggalkan yang haram melainkan dengan pertolongan Allah. 


dari Asunnah yahoo group

(read more ...)
Agu 14

Benarkah Mimpi bertemu Rosullulloh SAW

Renungan 1 Comment »

Mimpi bertemu Rosullulloh SAW


 


 Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh akan datang  kepada salah seorang dari kalian suatu hari di mana ia tidak melihatku, kemudian sungguh melihatku lebih dicintai daripada keluarga dan harta  yang dimilikinya. (HR. Bukhari - Muslim)


Barangsiapa melihatku di dalam tidurnya, maka ia sungguh telah melihatku,  karena syetan tidak dapat menyerupaiku. (HR. Bukhari)



Mimpi bertemu Rasulullah merupakan karunia yang sangat besar, yang  tidak dapat dibandingkan dengan kebahagiaan saat mendapatkan sesuatu  apapun. Mimpi yang baik merupakan satu bagian dari empat puluh enam

kenabian. (Muttafaq ‘Alaih)



Dari hadits di atas, kita harus meyakini bahwa Rasulullah ’alaihi  sholatu wasalam itu tidak dapat diserupai oleh makhluk seperti jin dan  lainnya. Sehingga bila seseorang dalam mimpi bertemu dengan Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam, maka memang benar itu adalah Rasulullah  ’alaihi sholatu wasalam dan bukan makhluk yang menyamar.



Namun perlu diketahui bahwa hanya ada dua golongan orang yang bisa  dibenarkan perkataannya bila mengaku bermimpi bertemu Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam.



Pertama, para shahabat Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam, yaitu orang  yang pernah bertemu dengan Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam. Bila  pengakuan itu datang dari para shahabat, maka 100 % hal itu bisa diterima, karena selain mereka memang mengenal persis sosok Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam, mereka juga adalah orang yang diridhai oleh  Allah ’Azza wa Jalla.



Kedua, orang yang telah mempelajari, mengkaji dan mendalami sirah nabawiyah dengan sumber-seumber yang shahih dari Al-Quran dan  As-Sunnah bahkan sampai detail-detail ciri fisik Nabi Muhammad ’alaihi sholatu wasalam.



Bila seseorang mengaku bermimpi bertemu Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam tapi bukan shahabat dan juga bukan orang yang memenuhi  kriteria nomor dua di atas, maka apa yang dikatakannya itu tidak bisa  dijamin kebenarannya. Karena bisa saja dia menganggap bahwa orang  dalam mimpinya itu sebagai Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam, padahal  dia tidak pernah mengetahui seperti apa sosok Rasulullah ’alaihi  sholatu wasalam itu sendiri karena dalam hadits di atas memang benar  disebutkan bahwa sosok Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam tidak bisa  diserupai oleh siapapun tetapi setiap orang bisa mengaku sebagai  Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam tanpa harus menyerupai sosok  beliau. Jadi dari mana dia bisa tahu bahwa itu adalah Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam? Bisa jadi orang yang dilihat itu bukan Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam, tapi karena dia awam dengan sirah nabawiyah, maka dengan mudah terpedaya oleh perasaannya atau oleh  syetan untuk mengatakan bahwa sosok yang mengaku sebagai Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam itu memang benar beliau.



Jadi ketidak-benaran pengakuan itu bisa ada pada dua titik. Pertama,  pengakuan itu salah duga, karena dia menganggap orang dalam mimpinya  itu Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam padahal bukan dan hal itu bisa

dibuktikan setelah dibandingkan dengan ciri-ciri beliau dalam  kitab-kitab sirah nabawiyah. Kedua, bisa saja orang tersebut memang  tahu ciri-ciri Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam namun dia berbohong  untuk kepentingan tertentu.



Tapi yang paling pokok yang harus dipahami adalah bahwa mimpi itu  bukan sarana untuk mendapatkan hukum syariat baru. Sehingga bila  seseorang mengaku bermimpi bertemu Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam lalu bercerita bahwa Rasulullah ’alaihi sholatu wasalam memerintahkan  ini dan itu yang berkaitan dengan hukum syariat, jelas itu adalah dusta. Karena setelah beliau wafat, syariat Islam telah lengkap dan  tidak ada lagi wahyu yang turun, termasuk anggapan bahwa Rasulullah  ’alaihi sholatu wasalam masih kembali ke dunia untuk meneruskan  dakwahnya.



Tapi bila pengakuan itu datang dari orang yang shalih, berilmu  (minimal tentang sirah nabawiyah dan perinciannya), dan isi mimpinya  tidak mengandung hukum syariat, kita bisa mempertimbangkan bahwa  mimpinya mungkin benar.


Wallohu  A’lam  Bish-showab


dari yahoogroup 

(read more ...)
Mei 17

Dunia sementara .. akhirat selamanya

Renungan 0 Comment »


Di dalam hidup manusia, ang penting  ialah BERKAT.

Bila hidup kita berkat, diri ini akan  selamat.

Apabila diri selamat, rumahtangga jadi  sepakat.

Apabila rumahtangga jadi sepakat,  masyarakat jadi muafakat.

Apabila masyarakat jadi muafakat, negara kita menjadi kuat.

Apabila negara menjadi kuat, negara   luar jadi hormat.

Apabila negara luar jadi hormat,  permusuhan pun tersekat.

Apabila permusuhan tersekat,  pembangunan pun meningkat.

Apabila pembangunan pun meningkat  kemajuan menjadi pesat. ....
tapi  awas



Apabila pembangunan meningkat, kemajuan menjadi pesat, kita lihat  bangunan  naik bertingkat-tingkat.

Ditengah-tengah itu, tempat maksiat  tumbuh macam kulat.

Apabila tempat-tempat maksiat tumbuh  macam kulat,

KETIKA ITU manusia mula mengubah  tabiat.

Apabila manusia telah mengubah tabiat,ada yang jadi lalat ada yang jadi ulat.

Apabila manusia dah jadi  ulat,sembahyang makin hari makin liat.

Apabila sembahyang jadi liat, orang baik  ada yang bertukar jadi jahat.

Apabila orang baik bertukar jahat, orang  miskin pula nak kaya cepat.

Apabila orang miskin nak kaya cepat,  orang tua pula nak mati lambat.

Apabila orang tua nak mati lambat, tak  dapat minum madu telan jerla minyak  gamat.



Yang lelaki, 


budak budak muda pakai  seluar ketat.

Semua nak tunjuk kuat.

Bila berjudi, percaya unsur kurafat.

Tapi hidup pula yang melarat.

Tali kasut dah tak berikat.

Rambut pun jarang sikat.



Yang perempuan,



Pakai mini sekerat.

Suka pakai baju ketat... (apa dapat...)

Suka sangat menunjukkan pusat.

Hingga tak pedulikan lagi batasan aurat.

Pakai pulak yang singkat-singkat.

Kadang-kadang ternampak benda �bulat�.

Bila jadi macam ini, siapa lihat pasti tercegat.

Silap gaya jadi gawat, bohsia bohjan  lagi hebat.

Duduk jauh berkirim surat.

Bila berjumpa, tangan berjabat.

Kemudian pakat lawan peluk siapa erat.

Masa tu, nafas naik sampai tersekat-sekat.

Usah peduli agama dan adat.

Usah takut Allah dan malaikat.

Yang penting apa kita nak buat?

Kita �bukti� lah kita buat.

Akhirnya perut kempis dah jadi bulat.

Apabila perut kempis dah jadi bulat,

maka lahirlah

pula anak-anak yang tak cukup sifat.

Bila anak-anak tak cukup sifat, jam tu kita

tengok bayi dibuang di merata  tempat.



MAKNANYA KETIKA ITU, IBLIS MULAI MELOMPAT.

Dia kata apa..?  Habis manusia dah masuk  jerat.

Habis manusia telah tersesat.  Inilah dia fenomena masyarakat.



Oleh karena itu wahai saudaraku dan para  sahabat,

Marilah kita pakat mengingat,

Bahawa dunia hari ini makin singkat,

Esok atau lusa mungkin kiamat,

Sampai masa kita semua akan berangkat! .

Berangkat menuju ke negeri akhirat.



Di sana kita akan ditanya apa yang kita buat.

Masa tu, send i ri mau ingat.



Umur mu banyak mana , berapa banyak  kamu buat ibadat...?

Zaman muda mu, apa yang telah ka mu  buat...?

Harta benda anda, dari mana anda   dapat...?

Ilmu anta, adakah anta manafaat...?



Sebagai sesama insan sama2lah ingat   mengingati sesama insan!!!

Semoga ianya dapat mengingatkan kita  supaya segera

meninggalkan maksiat dan  memperbanyakkan ibadat.



(Petikan ucapan Ustaz Hj. Akil Hayy Rawa. Sebarkanlah ini kepada ahli keluarga,

saudara-mara, rakan-rakan dan sahabat handai kita agar masyarakat kita akan

menjadi sebuah masyarakat yang bukan  sahaja maju dari segi duniawi malah

ukhrawi. Insya-Allah...Allahhuakbar!  Allahhuakbar! Allahhuakbar!)






Di kala kaki tak mampu berdiri

Di kala tangan tak mampu mengangkat  lagi

Di kala lutut lenguh setiap sendi

Di kala badan tak mampu kesana kemari

Di kala telinga tak mampu menangkap  bunyi

Di kala tekak tak rasa apa lagi

Rumah kata pergi

Kubur kata mari sini

Juga buat teman di kala sendiri

Dalam kubur sunyi sepi



Menangislah sepuas hati

Mulai dari hari ini

Menyesali diri

Yang jahil dan dhaif sekali

Ambillah insiatif sendiri

Untuk baiki diri

Jangan hanya duduk sesali diri

 


(read more ...)
Apr 15

BELAJAR DARI PEMULUNG SAMPAH

Renungan 0 Comment »




Pagi buta, ia sudah siap dengan keranjang besar di punggungnya, tongkat penjepit dan magnet bundar di ujungnya. Ia datangi satu demi satu tong sampah di setiap rumah. Ia korek-korek, kadang ia mendapati botol plastik, kadang ia dapati kaleng bekas minuman bersoda, kadang ia dapati kardus dan Koran. Ia mulai memisahkan berdasarkan jenisnya.





Menjelang siang hari keranjang besar itu sudah penuh dengan sampah beraneka jenis. Ia datangi pengepul, ditukarnya sekeranjang sampah itu dengan beberapa lembar uang ribuan setelah sebelumnya ditimbang berdasarkan jenisnya. Pemulung memang mendapatkan uang tidak sebesar yang kita dapatkan, tapi ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil.


Pelajaran apa yang bisa kita ambil?

Pertama, Bergegaslah dan jangan Malas!.


Kantuk adalah tanda kehidupan, tapi manakala kantuk itu menjadi alasan utama yang membuat kita berhenti beraktivitas wajib, maka itu adalah tanda "kematian". Kita harus mengalahkan kantuk dan kemalasan setiap hari. Bahkan Rasulullah mengajari kita untuk berlindung dari kelemahan dan kemalasan. Setiap hari pemulung harus berpacu dengan tukang sampah, ketika ia terlambat beberapa saat saja, ia akan kehilangan sampah yang seharusnya bisa pungut. Walau hanya dibalut dengan baju atau kaos lusuh plus celana seadanya, ia harus bergegas sembari bersusah payah membelalakkan kedua matanya untuk mengusir kantuk yang mendera. Ia akhirnya setiap hari berhasil mengalahkan kemalasan, sikap lemah dan berhasil menjemput rizkinya di balik tong-tong sampah. Bagaiman dengan kita?


Kedua, sambut pagi!.


Memulai aktifitas dari pagi hari. Rasulullah pernah besabda:


بورك أمتي ÙÙŠ بكورهم, artinya: "Umat ku diberkahi pada pagi hari mereka". Seorang muslim setelah menjalankan shalat malam, dan kemudian istirahat sebentar lalu menjalankan shalat subuh di masjid, tibalah saatnya untuk mencari karunia Allah di muka bumi. Kita diwajibkan menyebar di segenap bumi untuk mencari maisyah, mencari sumber-sumber rezeki dari berbagai pintunya. Apapun profesi kita, apakah guru, pedagang, pebisnis, karyawan, pagi hari adalah waktu yang sangat baik untuk memulai aktivitas. Pagi adalah awal hari, saat fajar mulai menunjukkan kemerahannya, disusul mentari, kicauan burung dan kokokan ayam jantan. Udara pagi hari seberapapun kotornya nanti, adalah kondisi paling ideal untuk dihirup seluruh makhluq hidup termasuk kita. Saat itu pula badan kita telah kembali segar dan bergairah, setelah beberapa jam kita terlelap dan kita biarkan sel-sel tubuh kita meregenerasi dirinya. Saat itulah kuncup-kuncup bunga kembali bermekaran, setelah semalaman ia menguncupkan dirinya. Saat itulah bayi-bayi membuka matanya, tersenyum menebarkan kebahagiaan bagi setiap orang yang menatapnya. Saat itulah Malaikat mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Itulah pagi hari. Maka sebaik-baik aktivitas yang baik idealnya kita mulai saat pagi.


Ketiga, bawalah bekal walau itu berat!.


Lihatlah pemulung, keranjangnya melebihi besar tubuhnya, dipikul di punggungnya, iapun membawa tongkat untuk memudahkan memungut sampah. Ia paham benar apa yang akan ia lakukan dengan bekalnya. Keranjangnya sebanding dengan uang yang ia harapkan setelah ia menjual sampah hasil pencariannya. Bahwa kita dengan berbagai profesi kita, membutuhkan bekal untuk mencapai impian dan hasil yang kita harapkan. Semakin kita siap dan sungguh-sungguh mempersiapkannya semakin siap kita menjemput impian dan sukses yang kita harapkan itu. Kadang bekal itu sangat berat, dan itulah mungkin resiko yang harus kita pikul agar hasil yang kita capai maksimal. Dan sebaik-baik bekal sesungguhnya adalah taqwa, apapun impian yang ingin anda capai. Karena taqwa dijadikan Allah sebagai wasilah agar kita ditolong, agar kita memperoleh jalan keluar dari setiap keruwetan yang kita hadapi, agar kita dimudahkan dan agar kita memperoleh rezeki dari pintu yang tidak kita sangka-sangka.


Keempat, kumpulkan sedikit demi sedikit!.


Keranjang tukang sampai begitu besar, sementara sampah-sampah yang ia pungut mungkin hanya satu buah disetiap tong sampah, malah mungkin ia tidak dapatkan satupun darinya. Tapi ia tidak pernah berhenti dan bosan untuk menghentikan kerjanya, memunguti satu demi satu, mengumpulkan sampah-sampah hingga keranjangnya penuh. Anda, saya mungkin memiliki impian dan target pencapaian yang sangat besar. Seakan-akan target itu sulit bahkan mustahil kita penuhi. Tapi yakinlah bahwa jika sedikit demi sedikit kita kumpulkan kemampuan dan hasil-hasil kecil itu hingga akhirnya target kita terpenuhi. Lihatlah bukankah buku-buku ditulis selembar demi selembar. Lihatlah bukankah banjir itu berasal dari kumpulan dari setitik air hujan?


Kelima, klasifikasikan yang Anda temukan!.


Apapun yang kita miliki, kita dapatkan dan kita hasilkan cobalah untuk dikumpulkan sesuai dengan jenisnya. Itu akan memudahkan kita untuk memikirkannya dan managenya. Klasifikasi itu akan memberi kita nilai yang lebih daripada kita satukan. Bukankan ketika seorang pemulung menjual sampahnya berdasarkan jenisnya ia akan memperoleh uang lebih daripada ia memborongkannya?


Keenam, tukarlah apa yang telah anda hasilkan!.


Berapapun hasilnya yang telah anda peroleh, ia tidak akan bernilai apapun jika tidak Anda tukar dengan sesuatu yang anda inginkan. Bukankah Allah telah mewajibkan hambanya untuk beribadah kepadaNya, tapi Dia juga memberikan bagi hambanya surga dengan rahmatNya? Surga adalah nilai tukar yang akan kita dapatkan setelah kewajiban kita jalankan, walaupun ibadah itu sebenarnya sangat  tidak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari seorang pemulung.


dari: milist assunnah yahoogroup 


(read more ...)
Mar 23

urip ning dunyo ibarate mampir ngombe

Renungan 0 Comment »

Kita Hanyalah Musafir di BumiNya   ?


Dunia ini pinjaman yang harus kau kembalikan

Pesonanya sesaat, fana, dan hanya fatamorgana

Yang berakal takkan terkecoh kilau kemilaunya

Karena ia tahu ada kehidupan abadi disana

Orang beriman tak betah di negeri persinggahan

Karena negeri persinggahan bukanlah tujuan

Dunia tak terpikir, akhiratlah yang jadi pikiran
  


Wahai yang terlena dalam kenikmatan semu

Melihat kehancuran, kehinaan mengintaimu

Ingatlah kau dengan hari pembalasan

Tak ada yang bisa disembunyikan

Semua perbuatan akan peroleh ganjaran

Sadarlah! Mumpung masih ada kesempatan

Mumpung liang lahat yang sempit belum datang

Terangi makammu dengan kebaikan
  


Bersyukurlah pada ALLAH atas kebesaranNya

Ia begitu dekat, lebih dekat dari urat leher kita

Ia pemberi rejeki seluruh penghuni semesta

Ia hamparkan bumi, langit, udara, laut, dan hujan juga

Demi kebaikan kita, janganlah kau bangkangi Ia

Sungguh, semua orang akan tanggung amalannya..?


 (dikutip dari puisi Ibnu Hazm El Andalusy, ?Di Bawah Naungan Cinta?)  


  Harus disadari, kenikmatan di dunia hanya bersifat sementara. Bagi yang memperoleh hidayah dariNya, akan menempuh jalan yang diridhaiNya. Mereka menyadari bahwa kenikmatan dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan utama kehidupan, yaitu  akhirat.   urip ning dunyo ibarate mampir ngombe

Sementara bagi yang lalai, kenikmatan dunia menjadi tujuan hidup. Dan mereka lalai terhadap kewajiban mereka. Dan Rasulullah saw telah bersabda bahwa kehidupan seseorang di dunia tidak lain seperti musafir yang beristirahat sejenak di bawah pohon sebelum meneruskan perjalanan ke tujuan berikutnya.

Segala kenikmatan yang diberikan oleh ALLAH tidak boleh memperdayakan kita. Karena kematian bisa sewaktu-waktu datang tanpa permisi. Kematian bisa datang lebih cepat, namun kematian juga bisa datang tertatih-tatih dan merangkak perlahan.

Ketika maut menggapai, tak ada tempat lagi untuk bersembunyi, tak ada tali untuk bergantung, tak ada tembok yang tinggi untuk berlindung. Kematian datang dengan caranya sendiri. Tidak pernah malas atau lupa untuk menjemput kita, dimanapun kita. Manusia hanya bisa menunggu saatnya tiba. Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya.


 ?Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang, dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dan dalam kematian yang akan tiba-tiba datang? (Ibnu Mas?ud ra)   Lalu apa yang sudah kita persiapkan untuk kematian yang akan menyapa kita itu? Siapkah kita melihat buku amalan diri kita selama hidup di dunia? Apakah kita sudah merasa cukup menulis banyak amalan kebaikan dalam buku catatan amal kita? Apakah kita sudah merasa siap berjumpa dengan ALLAH membawa senyum kedamaian dan penuh kerinduan akan perjumpaan denganNya? Apakah sudah cukup langkah kita berhenti karena merasa banyak membawa bekal untuk perjalanan ke surga nanti?

  Mempersiapkan kematian sama saja seperti menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang kita. Karena hidup adalah pilihan, maka tinggal kita pilih saja, hendak mempersiapkan segala sesuatunya dengan persiapan yang matang atau hendak mempersiapkannya dengan santai-santai saja. ALLAH swt telah memberikan perbandingan yang jelas antara kehidupan dunia dan akhirat, dalam firmanNya : ?dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.? (QS. AL-Ankabut : 64)


  Maka, untuk menghadapi kehidupan dunia yang merupakan senda gurau dan main-main ini, diperlukan tuntunan agama yang merupakan petunjuk dariNya, yaitu berupa Al-Qur?an dan hadist Rasulullah saw yang harus dijalankan dengan penuh ketaatan dan kesungguhan.


Karenanya setiap detik dan menit yang berganti dalam hidup ini sangat berarti sekali bagi orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian. Betapa dirinya takut dan sangat berharap akan cukup atau tidaknya bekal yang dibawanya. Dengan mengingat kematian, maka ia terus menerus berusaha menambah perbekalan agar benar-benar siap menghadapi maut.

Tak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mengingat kematian. Betapa dirinya sungguh-sungguh jauh dari keterlenaan dunia. Ia selalu berusaha untuk mengingat-ingat sepak terjangnya dan kemudian berusaha menimbang sendiri apakah hari ini sudah dilewati dengan menyisakan amal kebaikan atau malah sebaliknya. Apalagi selalu ada yang mengawasi kita dan tidak pernah tidur walau sekejappun. Ada para malaikat yang setia mengikuti langkah kaki kita dan terus menulis amalan baik dan amalan buruk yang kita kerjakan.  ?Tiada satu ucapan pun yang diucapkan kecuali ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.? (QS. Qaaf : 18)  

Umar bin Khaththab berkata, ?Timbanglah dirimu sebelum ditimbang, hitung-hitunglah amal perbuatanmu sebelum dihitung, dan bersiap-siaplah untuk menghadapi persidangan yang paling besar, yaitu pada hari kiamat. Pada hari itu tidak akan ada yang tersembunyi darimu walaupun sesuatu yang sangat samar.?

 


ALLAH akan memanggil kita tanpa harus bertanya apakah kita sudah siap atau tidak. ALLAH tidak akan memundurkan waktu kematian kita bilapun kita tidak siap. Karena ALLAH telah memberi kita waktu yang lebih dari cukup untuk berbuat baik dan menyiapkan diri untuk di kampung akhirat.

 


Maka janganlah menunda kebaikan sekecil apapun. Dunia hanya persinggahan yang hanya kita lewati sekejap mata. Dunia hanya sarana dan jembatan bagi kita untuk menyebrangi tempat menuju kehidupan abadi.

  Ali bin Abi Thalib menulis dalam surat wasiat kepada putranya Al Hassan, ?Dan ketahuilah, engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan bahwa engkau tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. Tidak ada makhluk yang dapat lari darinya. Karena itu, hati-hatilah selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau tengah dalam kondisi buruk.? Segala puji bagi ALLAH dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, yang menetapkan kematian atas segala makhlukNya. DIA yang mengadili di akhirat di tengah semua ciptaanNya. Yang mencabut nyawa seseorang setelah mengisi kehidupan dunia. Semoga kita termasuk orang-orang yang menganggap dunia adalah lautan dan menjadikan amal sebagai perahu yang ditumpangi di lautan itu untuk menuju ke tempat persinggahan abadi nanti.

 


?...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan pada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan pada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya. Berilah  maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami maka tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang kafir.?

Semoga ALLAH senantiasa mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan membuka pintu maaf yang selebar-lebar. Semoga kita bisa meraih pintu hidayahNya dan terus berusaha menjalankan ibadah dengan bersungguh-sungguh. Tetapkan hati untuk meraih damai bersamaNya..insyaALLAH..

 


Semoga pula dalam hiruk pikuk nya kehidupan dunia ini, kita masih sangat bisa menyempatkan waktu untuk memikirkan urusan surga dan neraka. Perjalanan hidup kita memang tak pernah terduga akan berakhir seperti apa. Semua begitu mengejutkan seperti kehidupan itu sendiri. Maka berusaha untuk terus istiqomah dan meningkatkan ketaqwaan adalah salah satu usaha kita meraih ridho dan pintu maghfirohNya..


 Amiin..Ya Rabbal ?Alamin...


 Dan dalam umur yang sedemikian sempit ini, semoga kita semua bisa terus saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan. Karena saat ini pun, kita sedang dikejar kematian. Kita tak bisa lari, apalagi sembunyi

(read more ...)
Mar 23

Mungkin Tuhan mulai bosan ..melihat tingkah kita

Renungan 2 Comment »

Ingatkah syair lagu yang dinyanyikan oleh Ebit G Ade belasan tahun yang lalu…? “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”, inilah sebaris syair yang Ebit lantunkan lewat lagu. Adakah ia sudah tak punya lagi asa dan rasa hingga ia seperti frustasi dan bertanya pada rumput yang bergoyang..?


Entahlah…tapi saya merasa kegalauan Ebit perlu saya renungkan, kepada siapa saya pun harus bertanya “Mengapa di tanahku terjadi bencana..?” Ketika melihat air, api yang menghancurkan rumah kita, ketika melihat tanah, angin yang sudah tidak bersahabat lagi dengan kita, kepada siapa saya harus bertanya…dan saya pun hanya bisa menduga “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita”.


Sahabatku dan saudaraku, alam memang terus berubah, pertumbuhan manusia semakin mempersempit ruang alam jagat raya ini, setiap orang berlomba-lomba mendapatkan ruang di alam jagat raya ini, baik ruang kehormatan, kepangkatan, kekayaan maupun ruang derajat kemulyaan hidup, semuanya ingin dicapai dan dimiliki hingga kita hampir lupa bahwa kita akan mencapai takdir kita…mati! demikian pula dengan jagat raya ini suatu saat ia pun akan menepati janjiNya yaitu kiamat.


Allah SWT menurunkan bencana ke bumi akibat dari dorongan dosa yang dilakukan oleh ahli bumi, semua amal bani adam terangkat ke atas, jika amalan baik maka rohmat yang akan diturunkan dan jika kemaksiatan maka adzab Allah menimpa kita. Allah menciptakan bencana terhadap alam ini semata-mata untuk kita renungkan. Sebandingkah bencana yang terjadi dengan ambisi kita untuk mendapatkan kenikmatan…? Sebandingkah rasa syukur kita kepada Allah SWT dengan kenikmatan dunia yang telah kita rasakan…? sebandingkah waktu kita untuk meraih kesuksesan dengan waktu untuk bersujud kehadapanNya…?


Tengoklah diri kita seberapa besar kejujuran yang tersedia di hati kita, ketika kita punya ambisi untuk mendapatkan kenikmatan pernahkan kita mempertimbangkan sebab akibatnya, ketika kita merasa puas atas nikmat yang kita rasakan pernahkan kita bersyukur kepada sang pemberi kenikmatan yaitu Allah SWT, ketika kita menghabiskan waktu untuk meraih kesuksesan pernahkah menghargai waktu-waktu untuk beribadah kepadaNya…?


Mari kita bandingkan ketika kita memiliki ambisi atas suatu jabatan dan kehormatan, bagaimana kita meluangkan waktu, tenaga, pikiran, biaya agar kita memiliki disiplin ilmu (“mungkin”) untuk mencapai kesuksesan hidup yang kita inginkan. Tiada terik…tiada hujan, tiada siang …tiada malam, tiada dekat…tiada jauh, duduk dengan tekun menyimak ilmu-ilmu yang masih “mungkin ya” dan “mungkin tidak” bisa menghantarkan ke ambisi kita.

Dan ketika sadar hati kita kosong oleh ilmu agama, adakah kita bisa melawan nafsu kita untuk duduk di majlis-majlis talim mendengarkan ilmu-ilmu Allah yang sudah pasti (janji Allah) akan menghantarkan kita kedalam kebahagiaan dunia dan akhirat. Ketika telinga kita mendengar sang bilal mengumandangkan adzan apa yang terasa dihati kita…? Adakah kita bersyukur bahwa kita masih diberi waktu untuk beribadah kepadaNya…? Adakah kita bergegas menuju mesjid…? ketika berdiri menghadap kiblat, ketika ruku menghormat sang pencipta, ketika bersujud merendahkan diri kehadapan Allah, ketika duduk memanjatkan doa, bersahadat dan bersalawat, tenangkah hati kita…? Betahkah hati kita berlama-lama menikmati khusyuknya solat…? Atau ingin secepatnya menyelesaikan solat untuk segera kembali mengumbar hawa nafsu kita. Coba kita bandingkan ketenangan hati kita ketika menyaksikan pertandingan sepak bola di layar TV, ketika bermain catur, ketika bermain kartu, ketika berolahraga, ketika hati kita berada dalam kemaksiatan. Jangan bertanya kepada rumput yang bergoyang, tapi tanyakanlah ke hati kita.


Kematian adalah awal penyesalan bagi orang-orang yang ingkar terhadap janji-janji Allah, kematian adalah awal penderitaan bagi orang-orang yang terbuai oleh kemewahan dunia, dan kematian adalah akhir dari segala usaha amal ibadah untuk mendapatkan kebahagiaan (sorga) yang hakiki.


Sahabatku…mungpung masih ada waktu… ajal belum tiba ! mari kita tafakuri hidup ini dengan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada sang pencipta. Hargai waktu ibadah seperti kita menghargai waktu untuk meraih kesuksesan dunia, bekali ibadah kita dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh nabi kita Muhammad melalui majlis-majlis ta’lim. Mari kita berjihad melawan nafsu duniawiyah kita dengan melangkahkan kaki ke majlis-majlis ilmu untuk duduk dan mendengarkan Qalam Allah yang disampaikan oleh para ulama kapan pun waktunya dan dimana pun tempatnya agar ibadah kita sesuai dengan syariat-syariat agama.


Mari kita syukuri bahwa kita dilahirkan menjadi umat junjungan nabi Muhammad yang telah menghantarkan kita kedalam iman dan islam, mari kita penuhi hidup ini dengan beribadah sesuai dengan yang diajarkan Muhammad, mari kita penuhi hati ini dengan ilmu-ilmu yang diwahyukan Allah kepada Muhammad, dan mari kita berharap agar kelak kita bisa disatukan dalam sorga Allah bersama nabi Muhammad.


Sahabatku…adzan hampir tiba mari kita bersihkan lahir dan batin kita dengan wudhu, siapkan hati kita untuk bersujud dan bersyukur berjamaah di mesjid bersama orang-orang yang soleh untuk mencari ridlo Allah.

(read more ...)
.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml